Thursday, May 31, 2007

KETULUSAN JALAN KEBAHAGIAAN

Saudaraku, Kita harus senantiasa menyadari, bahwa kita hidup di dunia hanyalah sekejap. Maka maknailah hidup ini dengan Mengumpulkan kebaikan dari detik ke detik, dari hari ke hari, sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki. Tidak ada artinya hidup kita, bila kita kerahkan untuk semata kenikmatan dunia. Kerena dunia ini hanya sementara. Kita pasti akan meninggalkannya cepat atau lambat. Pun tidak ada gunanya bila kita bekerja keras hanya untuk memenuhi keinginan hawa nafsu. Karena hawa nafsu hanya panggilan sesaat, setelah itu ia akan hilang, meniggalkan dosa-dosa dan menodai harga diri kita. Tuhan dalam rangka ini mengajarkan kepada kita ketulusan.

Ketulusan dalam arti bahwa kita bekerja apa pun hanya dengan niat untuk meraih kasih sayang-Nya semata. Karena hanya dari ketulusan inilah kebahagiaan abadi akan kita raih. Segala bentuk perbuatan baik kita, yang besar sekalipun nilainya di mata manusia, tidak ada artinya di mata Tuhan bila tidak dibarengi dengan ketulusan. Namun sekecil apapun perbuatan kita, di mata manusia, bila dibarengi dengan niatan tulus, ia sangat besar nilainya di mata Tuhan, dan akan menjadi mercusuar bagi kebahagiaan kita di dunia dan di hari kemudian.

Bagaimana pentingnya ketulusan sebagai ruh dari sekecil apa pun perbuatan kita, dan tulus merupakan kunci menuju kebahagaiaan kita. Berapa banyak perbuatan yang menelan keringat dan darah, tapi kemudian sia-sia karena tidak dibarengi ketulusan yang jujur. Karenanya, mari kita selalu hati-hati dalam mengarahkan niat yang bergelora dalam hati kita. Jangan takut bila perbuatan kita tidak diketahui orang atau tidak dipuji orang. Karena pujian orang banyak tidak ada artinya bila Allah menolaknya. Tapi takutlah bila perbutan kita ditolak oleh Tuhan karena tidak adanya ketulusan di dalamya.

HIDUP ? APA HIDUP ?

Filosofi hidup saya yang saya ambil dari kepercayaan yang saya anut adalah beribadah kepada Sang Pencipta. Hidup adalah ibadah. Ibadah yang saya maksud d sini bukan sekedar ibadah-ibadah rutin (ritual), tetapi kembali pada hakikat ibadah yakni perwujudan penghambaan. Dimana kita memanfaatkan semua sarana yang di berikan oleh Sang Pencipta kepada kita degan sebaik-baiknya untuk mengekspresikan penghambaan.

Sang Pencipta telah jadikan kita dari ‘tiada’menjadi ‘ada’, tetapi jangan kita merasa puas dengan hanya sekedar ’ada’ tetapi kita harus menjadi ‘seseorang’, seseorang seperti apa? Seseorang yang proporsional, tahu diri, mengerti dari setiap peran yang dimainkannya, peran sebagai anak, kakak, adik, teman, sahabat, suami, istri, ayah sebagai ibu, peran sebagai anggota masyarakat yang semuanya itu harus kita perankan sesuai dengan skenario Sang Pencipta.

Hamba yang baik adalah hamba yang tidak memisahkan skenario Sang Pencipta, hukum-hukumNya, rambu-rambunya /kebijakan-kebijakanNya di semua aspek kehidupan. Kalau kita hidup dengan skenario Sang Pencipta berarti kita harus mengesampingkan kebebasan kita untuk memilih?

Manusia hidup di antara kehendakNya dan kebebasan. Bila hidup ini kita ibaratkan film dengan kita sebagai pemeran di dalamnya, dalam memainkan setiap peran kita mempunyai kebebasan untuk melakukan improvisasi dengan naskah skenario, tapi, peran yang berlebihan dalam berimprovisasi akan mengaburkan alur cerita, dan bisa menimbulkan kekacauan.

Manusia punya pilihan begitu juga Sang Pencipta. Dia yang menciptakan , Dia yang tahu apa yang terbaik bagi kita. Dia maha mengetahui, maha adil, maha penyayang, maha pengasih, maha bijaksana, maha mendengar dan setiap pilihan-pilihanNya untuk hamba-hambaNya berdasarkan pada sifat-sifat agungNya itu.
Sedangkan manusia memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan, pilihan manusia seringkali terkontaminasi oleh hawa nafsu/ emosi, ketidaktahuan dan pengaruh lingkungan yang ridak sehat, juga pengaruh setan.

Kalau kita mau merenung, kita akan mengetahui bahwa menyelaraskan pilihan kita dengan pilihan Sang Pencipta adalah cara terbaik dalam menjalani hidup ini

Tuesday, May 1, 2007

Belajar Mencintai Seseorang yang tidak Sempurna
dengan Cara yang Sempurna

Ketika kita bertemu dengan seseorang yamg menurut kita tepat untuk dicintai, itu adalah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuat kita tertarik , itu adalah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang kita anggap cocok dijadikan sebagai pendamping hidup, itu adalah kesempatan.

Ketika kita memutuskan untuk mencintai seseorang tersebut maka itu adalah pilihan, Kemudian kita menginginkan hidup bersama apapun yang terjadi, itu bukan kesempatan tetapi pilihan, Ketika kita memutuskan untuk terus mencintai dan menyayanginya dengan segala kekurangannya, itupun adalah pilihan. Hingga suatu ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih baik, lebih cantik, lebih kaya dari pasangan kita tetapi kita tetap mencintai dan menyayanginya itupun bukan kesempatan tetapi sebuah pilihan.

Rasa cinta, sayang, simpati, tertarik datang kepada kita seperti sebuah kesempatan, Namun cinta sejati dan abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Ada yang mengatakan, nasib yang membuat kita bersama, tetapi tergantung dari kita bagaimana agar semuanya berhasil. Kita mungkin bertemu dengan pasangan sejati , atau pasangan jiwa kita tetapi semua tergantung usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan yang kita harapkan. Kita mungkin sudah mendapatkan belahan jiwa kita, tetapi untuk terus hidup bersama dalam cinta adalah pilihan yang harus kita lakukan.
Kita ada di dunia ini bukan untuk mencari orang yang sempurna untuk dicintai tetapi belajarlah mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna.