Citra Anshor Baitul Amin - Dalam pentas sejarah Islam, kelompok Anshar memegang peranan penting dalam menunjang tegaknya kejayaan Islam. Mereka adalah penduduk Madinah yang memberi bantuan dan pertolongan dengan penuh keikhlasan kepada Rasulullah saw dan para sahabat beliau yang hijrah dari Mekah ke Madinah. Berkat bimbingan dan kebijaksanaan Rasulullah SAW, kedua kelompok ini yakni kaum Muhajirin dan kaum Anshar terikat tali persaudaraan seiman yang terkadang lebih erat dari ikatan saudara sekandung.
Dan mereka -kaum Muhajirin dan Anshor ini- dianggap sebagai perintis perkembangan Al Islam yang mendapat penghargaan tinggi Allah swt dan RasulNya
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah/9: 100)
Betapa kasih-sayang dan loyalnya Rasulullah saw kepada kaum Anshar dapat kita simak dari peristiwa mengharukan ini.Tak berapa lama setelah kota suci Makkah ditaklukkan oleh kaum muslimin, terjadilah Perang Hunain yang dahsyat. Walaupun mula-mula kaum muslimin hampir kalah, tetapi berkat keberanian Rasulullah saw perang tersebut dimenangkan kaum muslimin. Banyak sekali harta rampasan yang diperoleh, dan hampir sebagian besar harta itu dibagi-bagikan oleh Rasulullah saw kepada penduduk Makkah yang baru saja masuk Islam. Melihat hal itu ada suara-suara sumbang di kalangan kaum Anshar yakni orang-orang Madinah yang sejak awal mendukung Islam, kira-kira begini: “Nabi Muhammad telah bertemu kembali dengan keluarganya”. Rupanya ucapan itu sampai juga kepada Rasulullah saw yang segera meminta seluruh kaum Anshar berkumpul di sebuah lapangan.
Di hadapan mereka Rasulullah saw bersabda: “Wahai saudara-saudaraku kaum Anshar, aku telah mendengar sesuatu mengenai kejadian hari ini. Sebelum aku memberi penjelasan, aku ingin terlebih dahulu bertanya kepada saudara-saudara sekalian, bukankah aku mendatangi kalian waktu kalian ada dalam keadaan sesat dari jalan kebenaran? Juga tidakkah aku datang kepada kalian waktu kalian sedang saling bermusuhan satu sama lain?”. Hening tak ada yang menjawab, sehingga Rasulullah bertanya lagi: “Mengapa tak ada seorang pun yang menjawab? Jawablah”. Mereka menjawab: “Memang benar demikian ya Rasulullah”. Rasulullah berkata kembali: “Jawablah yang jujur, saudara-saudara”. “Apa lagi yang harus kami jawab, ya Rasulullah?” jawab mereka. Rasulullah SAW bersabda: “Sebenarnya kalau kalian mau, kalian akan menjawab begini ‘Hai Muhammad, bukankah engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan oleh kaummu, sedangkan kami sepenuhnya mempercayaimu? Tidakkah engkau datang dalam keadaan terusir, dan kami menerimamu dengan ikhlas? Dan dalam keadaan tanpa pembela, bukankah kami pembelamu?’ Kalaupun kalian mengatakan seperti itu, pasti semua orang akan membenarkan. Sekarang pantaskah kalian merasa sedih karena melihat aku membagi-bagikan harta rampasan kepada orang-orang yang baru saja menerima Islam? Padahal aku yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang telah teguh dan mantap imannya.
Tidakkah kalian puas melihat orang-orang yang baru beriman itu pulang ke kampung halaman mereka dengan membawa unta dan kambing, padahal kalian pulang ke Madinah dengan membawa pribadi Rasulullah saw? Demi Allah, sekali pun tidak karena Hijrah pasti aku akan menjadi orang Anshar. Dan andaikata semua orang menempuh suatu jalan tertentu dan kaum Anshar menempuh jalan yang lain, niscaya aku, Muhammad, akan menempuh jalan yang dilalui kaum Anshar”. Setelah bersabda demikian, Rasulullah SAW lalu berdo’a: “Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada kaum Anshar, sekaligus kepada anak-anak dan cucu-cucu kaum Anshar”. Mendengar itu meraunglah semua kaum Anshar sehingga basah wajah mereka dengan air mata, kemudian berkata: “Kami ridla, ya Rasul, dengan engkau yang menjadi bagian kami dan marilah bersama kami pulang ke Madinah”. Dan memang benar, Rasulullah saw memenuhi janji beliau. Beliau kembali bersama kaum Anshar pulang ke Madinah dan wafat di sana.
Itulah kaum Anshar yang sangat berbahagia mendapatkan kurnia ridha Ilahi dan kasih-sayang RasulNya, karena mereka telah menerima, mendukung dan membantu Rasulullah saw berjuang menegakkan Kalimah Tauhid “La ilaha ilallah Muhammadar Rasulullah”.
Kelompok Anshar masa kiniBagaimana dengan kelompok Anshar masa kini yang bertugas di surau-surau kita yang juga membantu dan mendukung perjuangan Al Mursyid sebagai Al ‘Ulama waritsatul anbiya dengan misinya menegakkan panji-panji keagungan Kalimatulahil hyial ‘Ulya serta menanamkan Dzikrullah di hati sanubari pribadi-pribadi dan masyarakat? Tentu saja hukumnya sama, mereka Insya Allah mendapat ridha Ilahi dan syafaat Rasulullah saw serta kasih sayang Al Mursyid. Yang berbeda adalah masanya, tetapi misinya tetap sama yaitu membantu dan mendukung lancarnya mengembangkan dzikrullah dalam rangka pemahaman Islam secara keseluruhan (kaffah) guna meraih tujuan Ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi. Mungkin yang perlu dilakukan sekarang adalah meningkatkan kualitas ke-anshar-an para anshar masa kini dalam hal kompetensi dan karakter mereka agar Insya Allah menjadi pengabdi yang teguh dan tulus.
Kompetensi dan Pribadi KompetenSaat ini di lingkungan industri, perusahaan dan organisasi masalah kompetensi menjadi tema yang paling banyak dibahas, karena makin disadari perlunya pribadi-pribadi berkemampuan tinggi yang dianggap merupakan unsur penting dalam meraih kesuksesan di berbagai bidang. Pribadi yang kompeten selalu produktif dan memberi kemanfaatan yang besar bagi dirinya dan lingkungannya serta menebarkannya ke sekitarnya. Mereka adalah profesional dalam bidangnya dan diharapkan akan menjadi pemimpin tangguh menghadapi berbagai kendala hidup serta menjadi teladan orang banyak menuju kehidupan yang lebih baik. Lebih-lebih saat persaingan makin tajam seperti sekarang masalah kompetensi menjadi mencuat. Pribadi dengan kompetensi tinggi memiliki etos kerja, sikap dan cara kerja yang baik, senang memberikan pelayanan prima, menyebarkan hal-hal bermanfaat ke sekitarnya serta selalu berusaha meningkatkan kualitas kerjanya sehingga benar-benar menjadi pakar dalam bidang pekerjaanya.
Etos KerjaAda beberapa asas yang berkaitan dengan etos kerja seorang pribadi dengan kompetensi tinggi, a.l. :
Asas Tindakan. Pribadi dengan kompetensi tinggi tak pernah menunda-nunda pekerjaan. Mottonya “Lakukan sekarang. Jangan tunda-tunda”. Mereka menyadari bahwa memulai pekerjaan apa pun tidak mudah, oleh karena itu mereka tak pernah menunggu waktu yang tepat, tetapi selalu mengatakan “Inilah saatnya yang terbaik melakukannya, bukan nanti atau besok“.Orang-orang sukses adalah mereka yang menghargai waktu dengan bertindak cepat merebut peluang dan tak pernah menunda kesempatan. Para anshar Baitul Amin diharapkan dapat menerapkan asas ini.
Asas Antusias. Mencurahkan segenap daya dan upaya terhadap setiap kegiatan yang sedang dilakukan. Antusiasme memancarkan semangat dan semangat akan mempercepat diraihnya hal-hal yang besar. Antusias sebenarnya merupakan sikap mental dan cara hidup yang terpancar dari wajah, sinar mata, cara bicara dan gerak gerik yang penuh semangat. Mengapa semangat ? Karena kita mencintai pekerjaan kita dan pekerjaan itu bermakna bagi kita. Antusiasme sulit untuk diajarkan tetapi dapat diteladankan. Seorang kompeten yang antusias akan menarik orang-orang lain untuk bersemangat. Dan anshar Baitul Amin memiliki gairah dan semangat kerja ini.
Asas Disiplin Diri: melakukan apa seharusnya dilakukan, terlepas dari senang atau tidaknya kita melakukan pekerjaan itu. Disiplin diri merupakan kebiasaan yang dimulai sejak kecil, walaupun sebenarnya dapat juga dilatih dengan jalan melakukan hal-hal tertentu terus menerus untuk waktu yang lama. Sifat pribadi kompeten adalah disiplin. Dan para anshar Baitul Amin sudah terkenal tinggi disiplin kerjanya.
Asas Kegigihan. Melakukan sesuatu tugas terus menerus sampai tuntas sekalipun mengalami rintangan dan penolakan. Persistensi adalah ketekunan dan kegigihan serta sikap pantang menyerah. Anda kenal Kolonel Sanders ? Ia memiliki resep ayam goreng istimewa yang ia tawarkan ke setiap restoran dan mengalami penolakan 1008 kali. Ia baru berhasil waktu ia menawarkan ke 1009 kalinya. Bayangkan andaikata ia berhenti pada penolakan ke 1008 kali itu pasti kita semua tidak akan merasakan nikmatnya ayam goreng Kentucky. Dan para anshar Baitul Amin memiliki kegigihan seperti Kolonel Sanders
Sikap kerja Pribadi kompeten selalu bersikap positif terhadap pekerjaan dan tugas-tugasnya. Ia menyadari pentingnya pekerjaannya dalam keseluruhan kegiatan organisasi. Ia mencintai pekerjaannya dan bangga atas pekerjan yang diembannya. Ia bekerja tidak hanya untuk uang, tetapi sadar akan misi kerjanya. Seorang petugas kebersihan yang kompeten, misalnya tidak hanya melakukan tugas membersihkan lingkungan semata-mata, tetapi ia sendiri menyukai kebersihan dan menyadari betapa kotornya lingkungan itu apabila ia tidak melakukan tugasnya dengan baik. Bertanggungjawab terhadap tugas adalah sikap kerja pribadi kompeten. Dan para anshar Baitul Amin memiliki misi dan visi membantu tujuan kesurauan yaitu menegakkan panji-panji kebesaran Kalimatullahil Hyial Ulya.
Perbaikan kerjaPribadi kompeten senantiasa berupaya secara sengaja meningkatkan kemampuan, ketrampilan dan cara kerjanya menjadi makin baik. Ia bekerja sebaik-baiknya melatih diri untuk menguasai (mastering) bidang kerjanya, sehingga tanpa terasa ia menjadi pakar dalam bidang itu. Banyak diantara para anshar Baitul Amin yang menjadi pakar dalam bidangnya setara dengan pakar-pakar berpengalaman lulusan perguruan tinggi.
PelayananPelayanan atau service adalah usaha untuk membantu, memfasilitasi dan mempermudah terlaksananya suatu tujuan. Seorang tamu yang ingin bertemu petugas pengobatan misalnya, ditunjukkan dengan santun dan diantar sampai bertemu dengan petugas yang ingin dijumpainya. Para anshar Baitul Amin yang kompeten senang memberikan pelayanan kepada siapa pun dengan sebaik-baiknya sebagai wujud dari amal shaleh. Tentu hal ini dilakukan dengan cara yang santun dan wajah yang jernih, karena sadar betapa besar pengaruh keramah-tamahan pada citra surau dan warganya.
Menyebarkan hal-hal bermanfaatPribadi kompeten selalu ingin berbagi pengalaman positif dengan orang-orang sekitarnya. Kalau mereka mendapatkan hal-hal bermanfaat, mereka tak “pelit” untuk berbagi dengan orang-orang lain. Di lingkungan surau kita hal ini termasuk dakwah yakni menyampaikan “berita baik” mengenai kemuliaan Dzikrullah. Dan para anshar Baitul Amin sebenarnya mengemban juga fungsi da’i thariqatullah disamping tugas-tugas yang ditentukan.
Itulah beberapa karakteristik pribadi kompeten yang bila berhasil diwujudkan akan sangat baik dampaknya pada citra surau dan warga surau serta kegiatan-kegiatan peribadahan surau kita. Cukupkah para anshar Baitul Amin hanya dengan memiliki kompetensi tinggi dapat berfungsi sebagai pengabdi yang teguh dan tulus? Jawabannya: Tidak. Kompetensi dan karakter ibarat dua muka dari sebuah mata uang logam. Artinya kompetensi dan karakter harus sama-sama dikembangkan. Karakter yang baik tanpa kompetensi tinggi menggambarkan orang saleh tetapi kurang berdaya dan berjaya. Sebaliknya pribadi dengan kompetensi tinggi tetapi karakternya buruk adalah orang pandai dengan moral buruk. Orang seperti itu bisa menjadi kasar dan arogan. Pengabdi yang teguh dan tulus memiliki kompetensi yang tinggi dan karakter terpuji.
Karakter Pengabdi yang tulusKarakter adalah aspek kepribadian dimana kita dapat memberikan penilaian baik dan buruk mengenai moral seseorang. Karakter berkaitan dengan penilaian baik-buruknya tingkah laku seseorang yang didasari oleh bermacam-macam nilai sosial-budaya sebagai tolok ukur penilaian. Misalnya prestasi (kerja atau akademik), kebahagiaan, kemanfataan, kebebasan pribadi, aktualisasi potensi dan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Agama Islam memasukkan karakter pada Akhlak yang meliputi pribadi yang berakhlak, tipe-tipe akhlak manusia, tolok ukur akhlak, proses pendidikan akhlak, sifat-sifat dan perbuatan akhlaki. Dan tolok ukur akhlak dalam ajaran Islam adalah sejauhmana seseorang mau menerima risalah Islam yang dibawa Rasulullah saw.
S. Mujtaba dalam bukunya “73 Golongan Sesat & Selamat: Uraian Karakter-karakter Manusia di dalam Al Qur’an” menyebutkan 38 golongan selamat dan 35 golongan zalim berdasarkan baik dan buruknya akhlak mereka. Para anshar yang benar-benar mengabdi dengan tulus dan serius termasuk dalam bermacam-mcam karakter kebaikan, seperti Ansharullah (pembela Agama Allah), Zakirunallah (orang-orang yang selalu ingat kepada Allah), Muhsinun (orang-orang yang berbuat baik), dan sebagainya. Tetapi yang jelas Rasulullah saw memasukkannya kedalam tiga dari 7 golongan yang mendapat lindungan Allah SWT pada Hari Kiamat dimana tak ada perlindungan lainnya selain lindunganNya. Dalam hal ini para anshar termasuk “orang-orang yang hatinya selalu terkait pada mesjid-mesjid” dan “anak-anak muda usia yang tumbuh dan beribadah kepada Allah” dan “orang-orang yang berdzikir di tempat sunyi dan basah wajahnya dengan air mata”. Alhamdulillah
Gambaran umum mengenai Akhlak Berbicara mengenai karakter sebenarnya berbicara mengenai akhlak. Dan akhlak adalah pilar utama agama Islam disamping akidah dan syari’ah. Demikian pentingnya akhlak ini sehingga dikatakan bahwa misi utama Rasulullah saw adalah menyempurnakan akhlak manusia.“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak” ujar beliau. Beliau sendiri adalah teladan sempurna bagi seluruh manusia (Uswatun Hasanah) dan dimasyhurkan memiliki “akhlak al-Qur’an serta mendapat predikat “Rahmatan lil ‘Alamin” (Memancarkan rahmat bagi seluruh universe). Dan Allah swt memberikan pujian tinggi kepada beliau:“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad ) memiliki akhlak yang tinggi” (QS. Al-Qalam/68: 4).
Akhlak adalah kekayaan batin manusia yang membedakannya dari mahluk-mahluk lain, terutama hewan. Melalui akhlaknya manusia dapat dinilai baik atau buruk, dan hanya manusia pula yang dituntut berakhlak baik dan mencegah diri dari akhlak yang buruk. Akhlak menunjukkan apa yang sebaiknya kita lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dalam ajaran Islam, akhlak sangat luas cakupannya dan meliputi seluruh kegiatan hidup manusia yang meliputi: a) Akhlak terhadap Allah dan RasulNya, b) Akhlak terhadap sesama manusia, c) Akhlak terhadap diri sendiri, d) Akhlak terhadap sesama makhluk. Akhlak pun terbagi pula atas Akhlak terpuji (Akhlaq al Mahmudah) dan Akhlak tercela (Akhlaq al Mazmummah). Contoh akhlak terpuji adalah: Jernih muka (Aniesatun), Jujur (Al Amaanah), Pemaaf (Al ‘Afwu), Kuat mental (‘Izzatun Nafsi), dan Berani (Al Syaja’ah). Sedangkan akhlak tercela contohnya adalah: Hianat (Al Khinayah), Cari muka (Al Riyaa), Pendendam (Al Hiqdu), Nyolong (Al Sirqah) dan Bunuh diri (Al Intihaar). Dan baik buruknya akhlak seseorang dapat menimbulkan dampak baik atau buruk pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Dalam rangka peningkatan kualitas pengabdian para anshar pembahasan ini dibatasi pada tinjauan psikologi mengenai kompetensi dan karakter dalam artian mengajukan asas-asas pengembangan karakter terpuji dan kompetensi tinggi.
Akhlak Anshariyah Anshar di surau (Pos, IOP) mana pun ia bertugas adalah ujung tombak tempat peramalan. Artinya, orang-orang yang masuk ke wilayah surau biasanya akan lebih sering berjumpa dulu dengan para anshar. Bagaimana persepsi orang-orang terhadap tempat wirid dan aktivitas-aktivitasnya, bahkan peribadatannya, banyak ditentukan oleh kesan pertama saat mereka berjumpa dengan para anshar. Itulah yang senantiasa harus disadari oleh para anshar. Ada beberapa hal praktis yang perlu diupayakan dalam menimbulkan kesan pertama yang baik
a). Penampilan, dalam hal ini cara berpakaian dan kerapihannya. Pakaian tidak usah baru, tetapi rapi dan bersih. Demikian pula rambut perlu disir rapi dan badanpun jangan menimbulkan “aroma yang mengganggu lingkungan”. An nahaafah adalah akhlak yang berkaitan dengan kebersihan badan, tempat tinggal, kebersihan rambut, kuku, mulut, hidung, telinga dan seluruh tubuh. Betapa akhlak islami memekankan kebersihan dan kerapihan.
b). Wajah jernih. Wajah jernih dan berseri serta enak dipandang (Aniesatun). tidak ada hubungannya dengan ketampanan dan kecantikan seseorang. Apalagi kalau dihiasi dengan senyuman tulus sebagai hiasan wajah dan cerminan hati yang lapang. Pribadi demikian pasti lebih disenangi (al aliefah) ketimbang yang judes uring-uringan (al ghadhab).
c). Sifat-sifat pribadi. Sifat jujur dan dapat dipercaya (al amaanah), baik hati (al khairu), dan berbuat kebajikan (al ihsaan), sabar (ash shabru), berani (asy syaja’ah) dan berjiwa teguh (‘izzatun nafsi), menahan diri dari berbuat maksiat (al hilmu) dan merasa cukup dengan apa yang ada (qana’ah) adalah antara lain sifat-sifat pribadi yang perlu dimiliki para anshar.
d). Sifat-sifat sosial. Menghormati tamu (adh dhiyaafah), kerjasama dan saling menolong (at ta’aawun), membina persaudaraan (al ikhaa’u), mudah memberi maaf (al khufraan). Pribadi demikian pasti tidak sulit menjalin silaturahmi dengan siapa pun.
e). Sifat-sifat spiritual. Puncak sifat-sifat ruhaniah adalah cinta kepada Allah dan RasulNya serta para ulama pewaris Nabi. Pengembangan sifat-sifat ini menjadi kajian dan lahan Thariqatullah.
Pengembangan Akhlakul Karimah Menurut Imam Al Ghazali, pengembangan pribadi pada hakikatnya adalah perbaikan ahlak, dalam artian menumbuh-kembangkan sifat-sifat terpuji (mahmudah) dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat tercela (mazmumah) pada diri seseorang. Ahlak manusia benar-benar dapat diperbaiki, bahkan sangat dianjurkan sesuai sabda Rasulullah saw “Upayakan ahlak kalian menjadi baik” (Hassinuu akhlaqakum), sekalipun harus diakui bahwa usaha ini tidak mudah sehubungan dengan perbedaan taraf kesediaan setiap orang untuk memperbaiki diri. Al Ghazali menaruh perhatian besar pada masalah ahlak serta mengemukakan berbagai cara perbaikan ahlak.
Metode peningkatan ahlak yang beliau ungkapkan dalam berbagai buku beliau, dapat dikelompokkan atas tiga ragam metode yang berkaitan satu dengan lainnya yang oleh penulis makalah ini dinamakan:
a. Metode Taat Syari’at. Metode ini berupa pembenahan diri, yakni membiasakan diri dalam hidup sehari-hari untuk berusaha semampunya melakukan kebajikan dan hal-hal bermanfaat sesuai dengan ketentuan syari’at, aturan-aturabn negara, dan norma-norma kehidupan bermasyarakat. Disamping itu berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dilarang syara’ dan aturan-aturan yang berlaku. Metode ini sederhana dan alami yang dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari.
b. Metode Pengembangan Diri. Metode yang bercorak psiko-edukatif ini didasari oleh kesadaran atas kekuatan dan kelemahan diri yang kemudian melahirkan keinginan untuk meningkatkan sifat-sufat baik dan menghilangkan sifat-sifat buruk. Dalam pelaksanaannya dilakukan pula proses pembiasaan (conditioning) seperti pada “Metode Taat Syari’at” ditambah dengan upaya untuk meneladani perbuatan dari orang-orang lain yang dikagumi. Membiasakan diri dengan cara hidup seperti ini kalau dilakukan secara konsisten akan berkembang tanpa terasa kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat terpuji yang terungkap dalam kehidupan pribadi dan dalam kehidupan bermasyarakat.
c. Metode Kesufian. Metode ini bercorak spiritual-religius dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pribadi mendekati citra insan ideal (kamil). Pelatihan disiplin diri ini menurut Al Ghazali dilakukan melalui dua jalan yakni al-mujaahadah dan al-riyaadhah. Al Mujaahadah adalah usaha serius untuk menghilangkan segala hambatan pribadi (harta, kemegahan, taklid, maksiat). Al-riyaadhah adalah latihan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mengintensifkan kualitas ibadah. Kegiatan sufistik ini berlangsung dibawah bimbingan seorang Guru yang benar-benar berkualitas dalam hal ilmu, kemampuan dan wewenangnya sebagai Mursyid.
Diantara ketiga metode tersebut, metode kesufian dianggap tertinggi oleh Al Ghazali dalam proses peningkatan derajat keruhanian, khususnya dalam meraih ahlak terpuji. Untuk keperluan pendidikan dan pelatihan pengembangan ahlak terpuji (akhlakul karimah) ketiga metode yang diungkapkan Al Ghazali dapat dimodifikasi menjadi empat cara mengembangkan Akhlakul Karimah, yaitu:
- Pembiasaan: membiasakan diri berbuat kebaikan dan menghindari keburukan. Proses pembiasaan (conditioning) akan menjelmakan kebiasaan (habit) dan kebisaan (ability), dan akhirnya akan menjadi terperangai dalam sifat-sifat pribadi (personal traits).
- Pemahaman, Penghayatan dan Penerapan: lebih dahulu mencoba memahami arti dari suatu perilaku yang baik, kemudian mendalaminya dan menjiwainya, lalu secara sengaja menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cara ini adalah cara yang lazim digunakan dalam pendidikan orang dewasa.
- Peneladanan: menyontoh tokoh-tokoh yang dikagumi (kebaikannya) untuk mengambil sikap-sikap atau nilai-nilai yang dikaguminya. Proses ini disebut proses identifikasi, yang syarat utamanya adalah harus mengenal tokoh identifikasinya. Dalam ilmu akhlak banyak sekali ditampilkan contoh-contoh perilaku terpuji dari tokoh-tokoh tertentu, dengan harapan dapat menimbulkan motifasi untuk mencontoh dan meneladaninya. Teladan yang paling baik dalam Islam adalah pribadi Nabi Muhammad SAW yang dimasyhurkan sebagai “Uswatun Hasanah” yakni suri teladan terbaik bagi manusia.
- Ibadah: ibadah dalam artian khusus (misalnya shalat, puasa, dsb) dan ibadah dalam artian umum (berbuat kebajikan karena Allah SWT) secara sadar atau tidak sadar akan mengembangkan akhlak yang baik dan menghilangkan/mengurangi akhlak yang buruk. Dan inti dari ibadah adalah Dzikrullah.
“Sesungguhnya shalat itu mencegah (manusia) dari perbuatan keji dan buruk; dan sesungguhnya ingat kepada Allah SWT itu merupakan (kekuatan) yang paling akbar”. (QS. al-Ankabut/29 : 45).
“Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat: ‘Maukah kalian aku kabarkan tentang sebaik-baiknya amalan yang amat suci disisi Allah SWT, yang meninggikan derajatmu ke tingkat yang tertinggi, yang lebih mulia dari pada menafkahkan emas dan perak (di jalan Allah SWT), yang lebih utama dari pada menghadapi musuh di tengah-tengah medan jihad di mana kalian tanggalkan leher musuh atau mereka tanggalkan leher kalian?’. Para sahabat menjawab: ‘Mau ya Rasulullah SAW. ‘Apakah itu?’ sabda Rasulullah SAW: “Dzikrullah”.
Itulah sekelumit contoh betapa ibadah dapat meningkatkan derajat akhlak manusia.
RANGKUMAN
Sekalipun masanya berbeda lebih dari 1400 tahun, kaum Anshar pada jaman Rasulullah saw dengan kelompok Anshar masa kemursyidan saat ini misinya tetap sama yaitu membantu, mendukung, mengurus, mempermudah, memfasilitasi tegak panji-panji kebesaran Kalimah Allah dan mengembangkan akhlakul karimah. Anshar masa kini adalah avant garde atau ujung tombak tempat-tempat peramalan dzikrullah. Sebuah perjuangan memerlukan dukungan semua pihak, terutama mereka yang memiliki komitmen kuat dan berkemampuan tinggi serta berakhlak mulia, antara lain para anshar yang tinggi kompetensi dan karakternya.
Apa yang terjadi kalau para anshar di surau-surau kita kemampuan dan ketrampilan kerjanya rendah, malas, cepat tersinggung dan arogan? Sebaliknya apa jadinya kalau para anshar ini menunjukkan kemampuan dan ketrampilan tinggi, bertanggungjawab atas tugas-tugas yang mereka emban, jujur, ramah dan amanah sifatnya, selalu berpikir positif, dan mampu memberikan pelayan optimal pada para jamaah dzikrullah? Tentu besar sekali perbedaannya pada perkembangan surau kita..
Untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan serta mengembangkan kualitas kepribadian para anshar, kompetensi dan karakter harus sama-sama dikembangkan. Pengembangan kompetensi dan karakter yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dalam arahan yang tepat dan lingkungan kondusif diharapkan akan menjelmakan para anshar sebagai para pengabdi yang teguh dan tulus. Mereka Insya Allah akan berperan dalam mendukung misi kesurauan kita.
Wallahu ‘alam bish shawab.
Thursday, March 27, 2008
Wednesday, March 26, 2008
Menjadi Pribadi unggul
Ini bukan dongeng. Ini adalah kisah nyata tentang sosok manusia unggul bernama Muhammad Yunus, diangkat Stephen R Covey (2004) dalam buku terbarunya, The 8th Habit: From Effectiveness to Greateness, sekadar untuk memberi gambaran sekaligus peta jalan kepada siapa saja, apalagi para pemimpin dan bahkan organisasi dalam mengatasi berbagai turbulensi yang dihadapinya.
Begini cerita singkatnya. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya, Yunus mengajar mata kuliah ekonomi di salah satu universitas di Bangladesh yang pada waktu itu, sekira 25 tahun yang lalu, sedang dilanda bencana kelaparan. Suatu saat setelah ia memberi kuliah dengan teorinya yang muluk-muluk dan dengan semangatnya yang menggebu sebagai seorang doktor yang baru lulus dari Amerika Serikat, ia keluar dari ruang kelas dan langsung melihat banyak kerangka hidup berkeliaran di sekelilingnya yang tidak lain adalah orang-orang yang sedang sekarat tinggal menunggu ajalnya.
Itulah kondisi riil yang membuat jiwa Yunus terpangil. Yunus merasakan bahwa apa pun teori yang ia pelajari, apa pun materi kuliah yang ia berikan di kelas, waktu itu diangapnya hanya sebagai sebuah khayalan karena tak memiliki arti bagi kehidupan orang-orang yang sedang menderita kelaparan. Di situlah Yunus pertama kali menemukan "suara jiwa"-nya yang kemudian menjadikan dirinya sebagai manusia sekaligus pemimpin unggul, hebat, besar - great.
Melalui panggilan spiritualitasnya itu, akhirnya Yunus mulai belajar untuk mengetahui kehidupan orang-orang kampung yang tinggal di sekitar kampusnya. Tidak sampai di situ, ia pun punya maksud ingin mengetahui apakah ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan sesama dari kematian, walaupun hanya untuk satu orang. Dan pada saat itulah, dengan uang yang dimilikinya, untuk pertama kalinya Yunus memberikan bantuan modal kepada seorang ibu pembuat dingklik bambu, dan ternyata berhasil. "Nurani saya gemuruh", demikian ungkapan Yunus ketika mengetahui bahwa lebih banyak lagi penduduk miskin yang untuk memperoleh modal dua puluh sen pun tidak mampu.
Karena semakin lama semakin banyak yang meminta uluran tangannya, akhirnya Yunus berupaya untuk bisa meminjam uang dari bank yang ada di kampusnya. Yang pertama ia lakukan adalah, bagaimana meyakinkan pihak bank bahwa orang miskin di desanya mampu mengembalikan uang pinjamannya, sebuah upaya yang saat itu dianggap mustahil karena berseberangan dengan kelaziman bank yang tabu memberikan bantuan pinjaman kepada rakyat miskin.
Namun dengan modal kepercayaan yang dimilikinya, dengan kreativitas dan ketangguhan yang dimilikinya, Yunus akhirnya berhasil meyakinkan pihak bank. Lebih jauh lagi, bahwa apa saja yang dijanjikan Yunus kepada pihak bank ternyata juga bisa dibuktikan karena semua pengusaha kecil yang diberi pinjaman ternyata sanggup mengembalikan uang yang dipinjamnya.
Dari situlah semakin banyak pengusaha kecil yang meminta bantuan Yunus. Tidak saja dari satu atau dua desa, tetapi berkembang menjadi ratusan desa. Kondisi itulah pula yang kemudian mengilhami berdirinya Grameen Bank yang ia dirikan pada tanggal 2 Oktober tahun 1983, sebuah bank resmi yang saat ini konon telah beroperasi di 46.000 desa yang ada di Bangladesh, memiliki 1.267 cabang, dan mampu mempekerjakan tidak kurang dari 12.000 personel. Karena keberhasilannya itu pula, Grameen Bank ini konon sudah mampu meminjamkan lebih dari 4,5 miliar dolar Amerika Serikat. Tidak saja bagi pemberdayaan kaum ibu miskin, tetapi juga pemberdayaan kaum pengemis.
Menarik pelajaran
Bagi Covey, Muhammad Yunus merupakan teladan dari sosok manusia dengan pribadi unggul karena telah mampu menemukan "suara (jiwa)"nya (voice) - sering juga disebut "panggilan jiwa", "panggilan hidup" atau "suara kemerdekaan" - yang tak lain adalah makna personal yang unik yakni kebermaknaan yang tersingkap ketika seseorang menghadapi tantangan-tantangan besar, dan yang membuat seseorang sama besarnya dengan tantangan itu. Dalam konteks itu, Yunus berhasil menemukan suara jiwanya yang kemudian melahirkan visinya mengenai dunia tanpa kemiskinan.
Karena berhasil menangkap suara jiwanya yang merupakan anugerah Tuhan sekaligus merupakan potensi tertinggi manusia itu, Yunus mampu merasakan kebutuhan (need) orang-orang yang ada di sekitarnya, dan mampu menanggapi bisikan nuraninya (conscience) untuk berbuat yang terbaik dengan memanfaatkan bakat (talent) dan gairah hidupnya (passion) untuk menjawab banyak kebutuhan orang-orang tadi.
Itulah karakteristik utama dari manusia dengan "pribadi unggul". Mereka tidak saja mampu membangun perilaku efektif melalui 7 aplikasi tujuh kebiasaannya (bersikap proaktif, memulai dengan akhir dalam pikiran, mendahulukan yang utama, berpikir menang, berusaha mengerti terlebih dahulu (pathos) sebelum dimengerti (logos), mewujudkan sinergi dan kebiasaan pembaruan diri) seperti telah diungkap dalam buku sebelumnya - The 7 Habits of Highly Effective People (1989), melainkan melampauinya dengan cara menunjukkan potensi kehebatan yang dimilikinya - greatness.
Itulah inti dari habit ke 8. Dalam bahasa Covey, temuilah suaramu, lalu ilhamilah orang lain untuk menemukan suaranya. Itulah suara jiwa. Itulah pula yang tercermin dalam pribadi manusia bernama Muhammad Yunus dan kebanyakan manusia besar lainnya.
Empat peran
Memang tidak mudah untuk bisa menjadi manusia dengan pribadi unggul. Namun tidak mudah tidak berarti mustahil untuk diwujudkan. Covey mengungkap bahwa untuk bisa menjadi manusia unggul, ada empat peran yang mesti dilakukan seseorang. Keempat peran ini sangat berkait dengan upaya dalam rangka mengilhami orang lain agar bisa menemukan suaranya, menemukan panggilan hidup atau visinya, dan karenanya berkait dengan peran kepemimpinan.
Pertama, adalah peran menjadi panutan, keteladanan atau uswah- hasanah (modeling). Peran ini sangat meniscayakan arti pentingnya setiap orang untuk terlebih dahulu bisa menemukan dulu suara atau panggilan jiwanya, dan kemudian memilih sikap untuk berinisiatif. Covey menyebut peran pertama dan utama ini sebagai "kemudi kecil" (trim-tab) yang mampu menggerakan kemudi besar. Peran ini menjadi sangat penting dalam rangka membangun kepercayaan rakyat yang dipimpinnya.
Kedua, adalah peran untuk menjadi perintis jalan (pathfinding) dengan cara mengarahkan hidup dengan visi. Perwujudan peran ini mesti dimulai dengan diri sendiri, dan baru kemudian mengilhami orang lain untuk melakukan hal yang sama. Itu sebabnya, peran perintisan ini akan mampu menciptakan visi dan nilai-nilai bersama sebagai arah yang akan menunjukaan jalan ke mana para pemimpin dan pengikutnya bergerak, persis seperti yang dilakukan Muhammad Yunus ketika ia akan mendirikan Grameen Bank.
Ketiga, adalah peran penyelaras (aligning). Intinya, bagaimana dengan nilai disiplin yang tinggi seseorang atau pemimpin bisa membangun sekaligus memelihara sebuah sistem, proses atau mekanisme agar tetap mengarah kepada tujuan organisasi yang telah ditentukan. Keempat, adalah peran pemberdayaan (empowering). Intinya, bagaimana membantu orang lain agar bisa menggali dan mengembangkan potensi dirinya, persis seperti yang juga berhasil dilakukan Yunus dalam memberdayakan para pengusaha kecil di negerinya. Kepemimpinan sendiri, tegas Covey, adalah seni untuk memberdayakan.
Itulah empat peran pokok yang mesti dilakukan oleh seorang pemimpin. Covey menggarisbawahi bahwa keempat peran itu mesti dilakukan secara berurutan dalam rangkaian kegiatan atau tindakan yang satu sama lain saling berkaitan. Peran menjadi teladan yang merupakan peran sentral, misalnya, pada dasarnya harus dilakukan sambil melakukan ketiga peran yang lainnya. Jelasnya, menjadi (pemimpin) teladan akan terjadi manakala orang lain bisa melihat secara langsung teladan yang diberikan oleh seorang pemimpin sebagai perintis, penyelaras dan pemberdaya.
Itulah pula sosok pemimpin besar, hebat atau unggul yang dibutuhkan untuk mengelola negeri ini, pada saat ini, yakni pemimpin yang mampu membangunkan gairah atau semangat hidup rakyat yang dipimpinnya karena mereka tidak saja mampu berperilaku efektif, tetapi juga mampu menemukan suara jiwanya dan bisa mengilhami semua rakyat yang dipimpinnya dalam menemukan suara jiwa mereka untuk kemudian bersama-sama bergerak keluar dari berbagai keterbelakangan menuju sebuah bangsa yang dicita-citakan, bangsa yang unggul. Wallahu a'lam bis-shawab.***
Begini cerita singkatnya. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya, Yunus mengajar mata kuliah ekonomi di salah satu universitas di Bangladesh yang pada waktu itu, sekira 25 tahun yang lalu, sedang dilanda bencana kelaparan. Suatu saat setelah ia memberi kuliah dengan teorinya yang muluk-muluk dan dengan semangatnya yang menggebu sebagai seorang doktor yang baru lulus dari Amerika Serikat, ia keluar dari ruang kelas dan langsung melihat banyak kerangka hidup berkeliaran di sekelilingnya yang tidak lain adalah orang-orang yang sedang sekarat tinggal menunggu ajalnya.
Itulah kondisi riil yang membuat jiwa Yunus terpangil. Yunus merasakan bahwa apa pun teori yang ia pelajari, apa pun materi kuliah yang ia berikan di kelas, waktu itu diangapnya hanya sebagai sebuah khayalan karena tak memiliki arti bagi kehidupan orang-orang yang sedang menderita kelaparan. Di situlah Yunus pertama kali menemukan "suara jiwa"-nya yang kemudian menjadikan dirinya sebagai manusia sekaligus pemimpin unggul, hebat, besar - great.
Melalui panggilan spiritualitasnya itu, akhirnya Yunus mulai belajar untuk mengetahui kehidupan orang-orang kampung yang tinggal di sekitar kampusnya. Tidak sampai di situ, ia pun punya maksud ingin mengetahui apakah ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan sesama dari kematian, walaupun hanya untuk satu orang. Dan pada saat itulah, dengan uang yang dimilikinya, untuk pertama kalinya Yunus memberikan bantuan modal kepada seorang ibu pembuat dingklik bambu, dan ternyata berhasil. "Nurani saya gemuruh", demikian ungkapan Yunus ketika mengetahui bahwa lebih banyak lagi penduduk miskin yang untuk memperoleh modal dua puluh sen pun tidak mampu.
Karena semakin lama semakin banyak yang meminta uluran tangannya, akhirnya Yunus berupaya untuk bisa meminjam uang dari bank yang ada di kampusnya. Yang pertama ia lakukan adalah, bagaimana meyakinkan pihak bank bahwa orang miskin di desanya mampu mengembalikan uang pinjamannya, sebuah upaya yang saat itu dianggap mustahil karena berseberangan dengan kelaziman bank yang tabu memberikan bantuan pinjaman kepada rakyat miskin.
Namun dengan modal kepercayaan yang dimilikinya, dengan kreativitas dan ketangguhan yang dimilikinya, Yunus akhirnya berhasil meyakinkan pihak bank. Lebih jauh lagi, bahwa apa saja yang dijanjikan Yunus kepada pihak bank ternyata juga bisa dibuktikan karena semua pengusaha kecil yang diberi pinjaman ternyata sanggup mengembalikan uang yang dipinjamnya.
Dari situlah semakin banyak pengusaha kecil yang meminta bantuan Yunus. Tidak saja dari satu atau dua desa, tetapi berkembang menjadi ratusan desa. Kondisi itulah pula yang kemudian mengilhami berdirinya Grameen Bank yang ia dirikan pada tanggal 2 Oktober tahun 1983, sebuah bank resmi yang saat ini konon telah beroperasi di 46.000 desa yang ada di Bangladesh, memiliki 1.267 cabang, dan mampu mempekerjakan tidak kurang dari 12.000 personel. Karena keberhasilannya itu pula, Grameen Bank ini konon sudah mampu meminjamkan lebih dari 4,5 miliar dolar Amerika Serikat. Tidak saja bagi pemberdayaan kaum ibu miskin, tetapi juga pemberdayaan kaum pengemis.
Menarik pelajaran
Bagi Covey, Muhammad Yunus merupakan teladan dari sosok manusia dengan pribadi unggul karena telah mampu menemukan "suara (jiwa)"nya (voice) - sering juga disebut "panggilan jiwa", "panggilan hidup" atau "suara kemerdekaan" - yang tak lain adalah makna personal yang unik yakni kebermaknaan yang tersingkap ketika seseorang menghadapi tantangan-tantangan besar, dan yang membuat seseorang sama besarnya dengan tantangan itu. Dalam konteks itu, Yunus berhasil menemukan suara jiwanya yang kemudian melahirkan visinya mengenai dunia tanpa kemiskinan.
Karena berhasil menangkap suara jiwanya yang merupakan anugerah Tuhan sekaligus merupakan potensi tertinggi manusia itu, Yunus mampu merasakan kebutuhan (need) orang-orang yang ada di sekitarnya, dan mampu menanggapi bisikan nuraninya (conscience) untuk berbuat yang terbaik dengan memanfaatkan bakat (talent) dan gairah hidupnya (passion) untuk menjawab banyak kebutuhan orang-orang tadi.
Itulah karakteristik utama dari manusia dengan "pribadi unggul". Mereka tidak saja mampu membangun perilaku efektif melalui 7 aplikasi tujuh kebiasaannya (bersikap proaktif, memulai dengan akhir dalam pikiran, mendahulukan yang utama, berpikir menang, berusaha mengerti terlebih dahulu (pathos) sebelum dimengerti (logos), mewujudkan sinergi dan kebiasaan pembaruan diri) seperti telah diungkap dalam buku sebelumnya - The 7 Habits of Highly Effective People (1989), melainkan melampauinya dengan cara menunjukkan potensi kehebatan yang dimilikinya - greatness.
Itulah inti dari habit ke 8. Dalam bahasa Covey, temuilah suaramu, lalu ilhamilah orang lain untuk menemukan suaranya. Itulah suara jiwa. Itulah pula yang tercermin dalam pribadi manusia bernama Muhammad Yunus dan kebanyakan manusia besar lainnya.
Empat peran
Memang tidak mudah untuk bisa menjadi manusia dengan pribadi unggul. Namun tidak mudah tidak berarti mustahil untuk diwujudkan. Covey mengungkap bahwa untuk bisa menjadi manusia unggul, ada empat peran yang mesti dilakukan seseorang. Keempat peran ini sangat berkait dengan upaya dalam rangka mengilhami orang lain agar bisa menemukan suaranya, menemukan panggilan hidup atau visinya, dan karenanya berkait dengan peran kepemimpinan.
Pertama, adalah peran menjadi panutan, keteladanan atau uswah- hasanah (modeling). Peran ini sangat meniscayakan arti pentingnya setiap orang untuk terlebih dahulu bisa menemukan dulu suara atau panggilan jiwanya, dan kemudian memilih sikap untuk berinisiatif. Covey menyebut peran pertama dan utama ini sebagai "kemudi kecil" (trim-tab) yang mampu menggerakan kemudi besar. Peran ini menjadi sangat penting dalam rangka membangun kepercayaan rakyat yang dipimpinnya.
Kedua, adalah peran untuk menjadi perintis jalan (pathfinding) dengan cara mengarahkan hidup dengan visi. Perwujudan peran ini mesti dimulai dengan diri sendiri, dan baru kemudian mengilhami orang lain untuk melakukan hal yang sama. Itu sebabnya, peran perintisan ini akan mampu menciptakan visi dan nilai-nilai bersama sebagai arah yang akan menunjukaan jalan ke mana para pemimpin dan pengikutnya bergerak, persis seperti yang dilakukan Muhammad Yunus ketika ia akan mendirikan Grameen Bank.
Ketiga, adalah peran penyelaras (aligning). Intinya, bagaimana dengan nilai disiplin yang tinggi seseorang atau pemimpin bisa membangun sekaligus memelihara sebuah sistem, proses atau mekanisme agar tetap mengarah kepada tujuan organisasi yang telah ditentukan. Keempat, adalah peran pemberdayaan (empowering). Intinya, bagaimana membantu orang lain agar bisa menggali dan mengembangkan potensi dirinya, persis seperti yang juga berhasil dilakukan Yunus dalam memberdayakan para pengusaha kecil di negerinya. Kepemimpinan sendiri, tegas Covey, adalah seni untuk memberdayakan.
Itulah empat peran pokok yang mesti dilakukan oleh seorang pemimpin. Covey menggarisbawahi bahwa keempat peran itu mesti dilakukan secara berurutan dalam rangkaian kegiatan atau tindakan yang satu sama lain saling berkaitan. Peran menjadi teladan yang merupakan peran sentral, misalnya, pada dasarnya harus dilakukan sambil melakukan ketiga peran yang lainnya. Jelasnya, menjadi (pemimpin) teladan akan terjadi manakala orang lain bisa melihat secara langsung teladan yang diberikan oleh seorang pemimpin sebagai perintis, penyelaras dan pemberdaya.
Itulah pula sosok pemimpin besar, hebat atau unggul yang dibutuhkan untuk mengelola negeri ini, pada saat ini, yakni pemimpin yang mampu membangunkan gairah atau semangat hidup rakyat yang dipimpinnya karena mereka tidak saja mampu berperilaku efektif, tetapi juga mampu menemukan suara jiwanya dan bisa mengilhami semua rakyat yang dipimpinnya dalam menemukan suara jiwa mereka untuk kemudian bersama-sama bergerak keluar dari berbagai keterbelakangan menuju sebuah bangsa yang dicita-citakan, bangsa yang unggul. Wallahu a'lam bis-shawab.***
Subscribe to:
Posts (Atom)